SEMARANG – Isu kesehatan global terkait ancaman wabah Cacar Monyet (Monkeypox) yang merebak di berbagai negara dijawab secara kreatif oleh para siswa SMA Krista Mitra. Melalui unjuk inovasi berbasis teknologi, siswa-siswi kelas X (Fase E) sukses merancang sistem simulasi pengamanan dan penapisan (screening) otomatis untuk gerbang kedatangan internasional di bandara.
Proyek pembelajaran interaktif ini memanfaatkan platform Tinkercad dan mikrokontroler Arduino. Dalam simulasi tersebut, para siswa berperan sebagai petugas pintu kedatangan bandara yang bertanggung jawab mendeteksi potensi penyebaran virus dari penumpang pesawat luar negeri secara cepat dan akurat.

Rancangan teknologi yang dibuat siswa bekerja dengan alur yang presisi. Setiap penumpang yang tiba akan dipindai menggunakan sensor suhu otomatis. Apabila sensor mendeteksi indikasi demam di atas batas normal, sistem akan mengaktifkan alarm peringatan dan mengarahkan penumpang menuju ruang karantina medis. Sebaliknya, jika suhu tubuh terpantau normal, sistem akan memberikan akses hijau bagi penumpang untuk melanjutkan pemeriksaan dokumen berikutnya.
Inovasi digital ini lahir dari tangan-tangan kreatif para siswa kelas X, di antaranya Areli Christian Aditya (X-1), Andreea Mary Magdalene Purnama (X-2), Jonathan Anthony Wenas (X-2), Matthew Christopher Wirawan (X-2), Vanessa Hadasa Christy Darmawan (X-2), serta Sky Adrian Raynier Pudjaprasetya (X-3). Karya-karya simulasi berbasis program tersebut juga telah didokumentasikan secara visual oleh para siswa sebagai bentuk akuntabilitas dan unjuk kebolehan teknologis.


Proyek ini tidak hanya mengasah logika pemrograman dan kemampuan rancang bangun sirkuit elektronik para siswa. Lebih dari itu, SMA Krista Mitra terus membuktikan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran kontekstual menghubungkan teori sains di kelas dengan kepedulian terhadap isu kesehatan di dunia nyata.

Melalui pemanfaatan perangkat keras dan logika pemrograman tingkat lanjut, para peserta didik dilatih untuk peka terhadap isu-isu kesehatan global yang sedang terjadi. Pengalaman langsung merakit alat sensor ini membuktikan bahwa siswa tidak hanya menguasai teori di atas kertas, tetapi juga terampil menghadirkan solusi nyata berbasis teknologi tepat guna.
Penulis Frenky Octanio M., S.Pd.
GURU INFORMATIKA
