Kegiatan

Guru Berbagi Ilmu dalam Kegiatan 5 Roti 2 Ikan: Meluruskan Kesalahkaprahan di Sekitar Kita

Para guru SMP Krista Mitra saling berbagi pengetahuan, di antaranya bagaimana meluruskan kesalahkaprahan di sekitar kita terutama yang berkaitan dengan penulisan dan pelafalan suatu teks.

Foto: Guru Berbagi Ilmu dalam Kegiatan 5 Roti 2 Ikan: Meluruskan Kesalahkaprahan di Sekitar Kita — SMP SMA Krista Mitra Semarang

Oleh: St. Haryanto, S.Si., M.M

Semarang, Rabu, 14 Oktober 2026 — Kegiatan 5 Roti 2 Ikan menjadi salah satu kesempatan bagi para guru untuk saling berbagi pengetahuan dan memperkaya wawasan. Melalui kegiatan ini, guru tidak hanya belajar untuk mengembangkan kompetensi diri, tetapi juga berbagi hal-hal sederhana yang bermanfaat bagi rekan sejawat dan dunia pendidikan.

Dalam kegiatan berbagi ilmu kali ini, materi yang disampaikan mengangkat topik “Meluruskan Kesalahkaprahan di Sekitar Kita”, yang membahas kebiasaan dalam membaca angka, melafalkan bilangan, serta menuliskan nilai rupiah yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Materi ini mengajak para guru untuk kembali memperhatikan ketepatan penggunaan bahasa dan lambang matematika. Hal-hal yang tampak sederhana ternyata dapat menimbulkan kesalahpahaman apabila dilakukan berulang kali dan akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang benar.

Screenshot 2026-10-20 004229

Empat Hal yang Perlu Diluruskan

Dalam materi yang dibagikan, terdapat empat pokok bahasan yang dapat menjadi perhatian, khususnya bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran.

1. Membaca Bilangan Desimal dengan Tepat

Bilangan desimal sering dibaca berdasarkan kebiasaan sehari-hari. Sebagai contoh, bilangan 3,14 terkadang dibaca “tiga koma empat belas”. Dalam pembelajaran matematika, bilangan tersebut dibaca “tiga koma satu empat”.

Demikian pula bilangan 90,72 dibaca “sembilan puluh koma tujuh dua”. Setiap angka di belakang tanda koma perlu dibaca sesuai lambang digitnya agar tidak menimbulkan kerancuan.

emahaman ini berkaitan erat dengan nilai tempat. Tanda koma memisahkan bagian bilangan bulat dan bagian desimal. Dengan memahami nilai tempat, siswa dapat membaca dan memahami bilangan desimal secara lebih tepat.

2. Menggunakan Kata “Nol”, Bukan “Kosong”

Kebiasaan menyebut angka 0 sebagai “kosong” juga menjadi perhatian dalam materi ini. Misalnya, angka 008 kerap dibaca “kosong-kosong delapan”, sedangkan nomor 9003 dibaca “sembilan kosong kosong tiga”.

Dalam konteks penyebutan lambang bilangan, istilah yang tepat adalah “nol”. Oleh karena itu, 008 dibaca “nol nol delapan”, dan 9003 dibaca “sembilan nol nol tiga”.

Kata kosong menyatakan keadaan tidak berisi, sedangkan nol merupakan nama bilangan. Dalam matematika, bilangan 0,5 pun dibaca “nol koma lima”.

3. Memperhatikan Pelafalan Kata “Nol”

Selain ketepatan istilah, pelafalan juga perlu diperhatikan. Dalam percakapan sehari-hari, pengaruh logat daerah terkadang membuat kata “nol” dilafalkan dengan tambahan bunyi di awal, seperti “enol”.

Materi ini mengingatkan pentingnya melafalkan kata “nol” tanpa tambahan bunyi tersebut. Bagi guru, perhatian terhadap pelafalan menjadi salah satu bagian dari upaya menggunakan bahasa yang jelas dan tepat ketika menjelaskan konsep kepada siswa.

4. Menuliskan Nilai Rupiah dengan Benar

Kesalahkaprahan lainnya dapat ditemukan dalam penulisan nilai uang. Pada poster atau iklan, terkadang dijumpai penulisan seperti Rp100.000,- atau Rp200.000,-.

Dalam materi yang dibagikan, bentuk penulisan yang dianjurkan adalah Rp100.000,00 dan Rp200.000,00. Lambang Rp ditulis tanpa titik dan dirapatkan dengan angka. Tanda titik digunakan sebagai pemisah ribuan, sedangkan tanda koma memisahkan bagian desimal.

Ketepatan penulisan nilai rupiah penting diperhatikan karena angka dan simbol uang sering digunakan dalam berbagai situasi, termasuk ketika siswa mempelajari matematika yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Belajar dari Hal-Hal Sederhana

Keempat pokok bahasan tersebut menunjukkan bahwa ketepatan dalam matematika tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung atau menyelesaikan soal. Cara membaca bilangan, menyebutkan angka, dan menuliskan simbol juga merupakan bagian dari pemahaman matematika yang perlu diperhatikan.

Bagi guru, materi ini dapat menjadi pengingat untuk terus mengevaluasi kebiasaan yang digunakan dalam pembelajaran. Hal-hal yang selama ini dianggap biasa perlu diperiksa kembali agar siswa memperoleh pemahaman yang tepat sejak awal.

Melalui kegiatan 5 Roti 2 Ikan, semangat berbagi ilmu diharapkan terus bertumbuh. Pengetahuan yang dibagikan seorang guru dapat menjadi berkat bagi guru lainnya dan selanjutnya memberikan manfaat bagi para siswa.

Dengan semangat saling berbagi dan belajar, para guru diajak untuk terus bertumbuh bersama, memperkaya wawasan, serta menghadirkan pembelajaran yang semakin bermakna bagi peserta didik.

Julianita Trinawati, S.Si

Ditulis oleh: Julianita Trinawati, S.Si

Artikel ini dipublikasikan secara resmi oleh Tim Humas & Publikasi SMP - SMA Krista Mitra Semarang. Materi berita kesiswaan, prestasi, dan pengumuman sekolah telah diverifikasi secara internal.