Kegiatan

Siswa Krista Mitra Belajar Unggah-Ungguh Lewat Video

SMA Krista Mitra kembali menghadirkan pembelajaran Bahasa Jawa yang kreatif melalui proyek pembuatan video bertema "Ngomong Jawa Kudu Empan Papan". Lewat proyek ini, generasi muda dilatih melestarikan budaya leluhur dengan cara yang relevan di era digital.

Foto: Siswa Krista Mitra Belajar Unggah-Ungguh Lewat Video — SMP SMA Krista Mitra Semarang

SEMARANG – Belajar bahasa daerah kini tidak lagi monoton dan sekadar menghafal deretan kosakata di buku. Hal inilah yang dibuktikan oleh siswa-siswi SMA Krista Mitra dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Jawa yang mengusung tema mendalam: "Ngomong Jawa Kudu Empan Papan". Melalui pendekatan interaktif dan proyek pembuatan video, para peserta didik diajak menguasai tata krama berbahasa (unggah-ungguh basa) secara kontekstual.

1 J

Inovasi pembelajaran ini berangkat dari keresahan realitas remaja masa kini. Sering kali, siswa merasa bingung menentukan ragam bahasa yang tepat apakah harus menggunakan ragam ngoko saat berbicara dengan teman sebaya, atau beralih ke ragam krama saat berinteraksi dengan guru maupun orang yang lebih tua.

Alih-alih menghafal teori secara kaku, para siswa diajak berdiskusi aktif membedah tingkat tutur (speech level) dalam berbagai situasi nyata. Mereka mengeksplorasi makna filosofi empan papan, sebuah kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya memiliki kepekaan terhadap lawan bicara, situasi, dan lingkungan sosial.

Sebagai puncak kreativitas dari materi tersebut, para peserta didik mendapat tantangan menarik untuk memproduksi video percakapan pendek secara berkelompok. Dalam proyek ini, mereka merancang naskah, membagi peran, hingga mempraktikkan langsung penggunaan ragam ngoko dan krama sesuai konteks sosialnya. Rangkaian video kreatif tersebut kemudian diputar dan dievaluasi bersama di dalam kelas.

2 J

Melalui proyek berbasis digital ini, para siswa dilatih untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, bekerja sama dalam tim, sekaligus membangun rasa percaya diri di depan kamera. Di tengah gempuran budaya global dan bahasa gaul, langkah kreatif ini membuktikan bahwa pelestarian bahasa ibu dapat dilakukan secara relevan, menyenangkan, tanpa kehilangan esensi kesantunannya.

3 J

Melalui pemanfaatan media digital ini, para siswa tidak hanya belajar teori kebahasaan di dalam kelas saja. Lebih dari itu, mereka dilatih untuk memiliki kepekaan sosial, keterampilan komunikasi publik, serta kecintaan yang mendalam terhadap kelestarian warisan budaya luhur bangsa. Mari terus dukung kreativitas anak bangsa dalam melestarikan budaya luhur Nusantara.

Penulis Katarina Dupitasari, S.Pd.

Guru Bahasa Jawa

TIM EDITOR  SMA

Ditulis oleh: TIM EDITOR SMA

Artikel ini dipublikasikan secara resmi oleh Tim Humas & Publikasi SMP - SMA Krista Mitra Semarang. Materi berita kesiswaan, prestasi, dan pengumuman sekolah telah diverifikasi secara internal.