Parenting Articles

(Penulis : Mariati Budirahardja, Psi, M.M – Manajer Eksekutif Sekolah Krista Mitra)

Pendidikan merupakan salah satu sarana yang kita siapkan bagi generasi selanjutnya agar memiliki masa depan yang gemilang.

Pada umumnya orang tua bercita - cita bahwa masa depan anaknya harus lebih baik dari kehidupan orang tuanya saat ini. Kalau saat ini pendidikan terakhir orang tua adalah Sarjana, kelak pendidikan anaknya minimal harus Magister.

Kalau orang tua saat ini memiliki 1 mobil, kelak anaknya harus punya lebih dari 1 mobil. Kalau orang tua saat ini menjadi pegawai biasa, kelak anaknya diharapkan menjadi pimpinan dan sebagainya . Orang tua dengan niatnya yang mulia berupaya seoptimal mungkin mendidik, membimbing maupun memfasilitasi kebutuhan sang anak.

Sayangnya, upaya orang tua seringkali tidak match dengan anak. Mengapa demikian?  Gap generasi merupakan faktor pertama yang menjadi barier dalam memberikan pendidikan yang tepat. Saat ini generasi muda didominasi oleh generasi Y yang lahir tahun 1983-2000 dan generasi Z yang lahir tahun 2001-2008 (sumber : timelmore@growing leaders.com).

Mereka lahir dan dibesarkan di era digital, secara natural mereka fasih teknologi, suka berinteraksi dengan berbagai orang dan bekerjasama, menyukai pengalaman langsung, tertarik dengan gambar, cerita dan bersikap spontan. Berbeda dengan orang tua yang terlahir dari generasi sebelumnya, mampu bertahan dengan duduk, diam, dengar, tidak terlalu banyak protes.

Barier lainnya adalah globalisasi dan teknologi. Kedua hal ini saling terkait, teknologi memberikan kemudahan konektivias antar manusia di Bumi, dunia seolah tak lagi memiliki sekat. Persaingan ke depan semakin ketat, tidak terbatas dengan orang lokal saja tetapi global, manusia dituntut untuk menguasai berbagai isu dan skills. Berbeda dengan orang tua di mana persaingan masih terbatas pada lingkup lokal.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita akan masuk pada dunia yang lebih banyak menstimulasi otak kanan manusia melalui imajinasi, musik maupun berbagai tayangan bergambar dinamis yang dengan mudahnya diakses dari alat di genggaman kita : gadget.  

Dengan menyadari tantangan orang tua dalam memberikan pendidikan bagi generasi selanjutnya, setidaknya kita dapat beraksi, melakukan langkah konkrit menyelamatkan masa depan generasi selanjutnya. Orang tua tidak bisa berdiri sendiri dalam mendidik putra – putrinya melainkan bermitra dengan berbagai pihak yaitu :

Sekolah : Sekolah merupakan kepanjangan tangan orang tua dalam membentuk pola pikir, karakter dan spiritualitas anak. Pastikan sekolah yang akan Anda pilih memahami isu dan tantangan masa depan, senantiasa meng-update organisasi dengan kebutuhan generasi selanjutnya di masa depan, memberikan lingkungan belajar yang mengakomodir ide – ide baru, memiliki guru – guru yang terbuka dan menerima individual differences.

Gereja: Gereja merupakan mitra yang sangat handal dalam membangun generasi muda, melalui firman Tuhan kehidupan anak dibentuk. Terlibat dalam pelayanan atau kegiatan gereja merupakan salah satu cara yang positif untuk menyalurkan dan mengekspresikan diri.
   

Parenting Class : Komunitas dapat membantu orang tua untuk belajar dari pengalaman orang lain dan mendapatkan “ilmu baru” tentang menyiapkan masa depan anak.

Mari bersama kita bersinergi membimbing dan menyiapkan masa depan terbaik bagi generasi berikutnya.

Your children are not your children. They are the sons and daughters of Life's longing for itself. They came through you but not from you and though they are with you yet they belong not to you.

                                                                Khalil Gibran         

Penulis : Mariati Budirahardja, Psi, M.M (Manajer Eksekutif Krista Mitra)   

 

 

When I was just a little girl

I asked my mother what will I be?

Will I be pretty? Will I be rich ?

Here’s what she said to me

Que Sera Sera Whatever will be, will be

The future’s not ours to see

Que Sera Sera

 

Bagaimana Anda memaknai lagu Que Sera Sera di atas? Apakah Anda melihat hal ini merupakan suatu bentuk pesimisme terhadap kehidupan di masa mendatang  atau suatu bentuk penyerahan diri terhadap Tuhan akan masa depan kita? Kita tidak dapat menjamin masa depan pada generasi penerus, namun Tuhan memberikan kita kemampuan untuk merencanakan, menyiapkan masa depan generasi penerus dengan baik. Seperti perumpamaan orang yang mendirikan rumah : Orang itu menggali dalam – dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun (Lukas 6:48).

Generasi seperti apa yang kita hadapi saat ini? Berdasar teori, kaum muda saat ini didominasi dengan generasi Y yang lahir tahun1983-2000 dan generasi Z yang lahir mulai tahun 2001 (timelmore@growing leaders.com). Seperti apa mereka?

  1. Generasi yang  , artinya mereka kewalahan menghadapi tekanan yang muncul dari internal maupun eksternal. Banyak orang tua menuntut anak berprestasi tinggi, akhirnya tidak sedikit anak – anak yang menjadi “ketagihan” berprestasi dan sulit untuk puas, di sisi lain mereka juga dihadapkan dengan  lingkungan yang serba kompetitif. Tantangan ke depan bukan hanya lokal tetapi global, dengan sederetan kompetensi yang harus dikuasai.
  2. Generasi yang terlahir di era digital, sangat mungkin tersesat di dunia virtual berupa games, video atau social media. Kehidupan mereka terhubung melalui teknologi, semua serba mudah, cepat dan akhirnya mereka sulit memisahkan diri. Akibatnya mereka menjadi pribadi yang tidak sabar, sulit mendengar dan sulit mencapai resolusi konflik. Suatu ironi, teknologi sebenarnya diciptakan untuk memudahkan dan menghemat waktu, namun kenyataannya generasi ini menghabiskan waktunya untuk menggunakan teknologi. Teknologi tanpa kedewasaan penggunanya menjadi sangat berbahaya.
  3. Generasi yang , keamanan menjadi perhatian orang tua dan lingkungan sejak anak mulai dilahirkan. Berbagai produk ditawarkan untuk menjaga keamanan anak mulai dari kursi pengaman, sabuk pengaman, helm untuk bersepeda, asuransi dan lainnya. Benar, hal ini merupakan bentuk cinta dan kasih sayang, namun tanpa disadari segala sesuatunya menjadi berlebihan.  Lingkungan memberikan banyak “pagar” kepada generasi ini agak terhindar dari berbagai resiko, Orang tua tidak mengijinkan anak untuk gagal,  akibatnya anak menjadi sulit mandiri dan rentan depresi. Pernahkah kita terpikir bahwa keamanan dan kenyamanan yang kita berikan dapat menghasilkan generasi yang tidak mampu menemukan jalannya di dunia?
  4. Generasi yang , kehadiran anak pada era ini dianggap berharga, istimewa. Positifnya mereka menjadi pribadi yang percaya diri, negatifnya mereka mencintai diri secara berlebihan,suka mengekspos diri, baik berupa gambar ataupun status. Mereka generasi yang slactivis (paduan slacker-activist) antara malas dan aktif, apabila mereka menemukan kendala mereka cenderung meninggalkannya dan akan berganti pada hal lain. Mereka memiliki banyak impian tetapi tidak memiliki cara untuk menggapai impian tersebut.

Secara natural, anak – anak sudah terlahir dengan kondisi demikian. Lantas, bagaimana dengan pola pengasuhan dan pendidikan yang selama ini kita terapkan kepada mereka? Apakah sudah tepat atau sebaliknya memperparah kondisi generasi penerus. Mari melihat beberapa bentuk pola pengasuhan yang kurang tepat yang tanpa disadari tidak menyiapkan generasi penerus menghadapi masa depan, bisa jadi kita juga termasuk salah satu di dalamnya :

(1) Helicopter parents, orang tua yang senantiasa mengontrol dan obsesif  memastikan bahwa semua berjalan baik, tidak mengijinkan anak “belajar gagal”, orang tua akan turun tangan mencarikan “jalan terbaik”. Dampaknya, anak sulit mandiri, sulit mengambi keputusan dan rentan depresi

(2) Karaoke parents, orang tua bertindak, bertutur dan berpenampilan seperti teman sebaya anaknya. Orang tua tidak memberikan parameter yang jelas untuk bertumbuh, orang tua berupaya keras agar disukai oleh anaknya, tetapi hal itu tidak dengan mudah di dapat, malahan anak tidak respek terhadap orang tuanya sendiri.

(3) Dry Cleaner parents, orang tua yang tidak mampu melakukan mentoring maupun menyediakan waktu bagi anaknya karena merasa bahwa mendidik bukanlah keahliannya. Sehingga mereka memilih untuk “membayar” dan mendelegasikan tugas pengasuhan atau pendidikan kepada baby sitter, sekolah, lembaga atau lainnya. Bisa dibayangkan karakter seperti apa yang dimiliki oleh anak?

(4) Volcano parents, orang tua menjadikan anak sebagai sarana untuk memenuhi impian di masa lalu yang tidak tercapai, mereka bisa saja terlalu turut campur dalam permasalahan anak dan selalu membela dan menganggap anaknya benar. Orang tua mengaburkan konsep diri anak, potensi, minat dan impian yang dimiliki anak tertutup dengan impian orang tua.

(5) Bullied parents, adalah orang tua yang dibully oleh anak. Orang tua kurang kuat memegang otoritas dalam memimpin anaknya. Orang tua seringkali dalam posisi kalah dan atau mengalah dan anak dalam posisi menang. Dengan pengasuhan seperti ini, anak tidak belajar bahwa lingkungan tidak selalu dapat melakukan seperti yang mereka pikirkan, dampaknya mereka bisa jadi memberontak dan mudah frustrasi.

(6) Groupie parents, adalah orang tua yang memperlakukan anaknya bak seorang “bintang” yang harus dihormati, dilayani dan sesering mungkin dipuji dalam berbagai peristiwa. Anak akan mengalami kesulitan menjalani relasi timbal balik yang sehat dengan orang lain karena terbiasa dirinya yang diperhatikan, dilayani dan dihormati bukan memperhatikan, melayani dan menghormati orang lain.

Sebagai orang tua, pasti mengupayakan pengasuhan dan pendidikan yang terbaik, namun terkadang orang tua mengalami kendala menemukan cara yang tepat. Dalam memberikan pengasuhan, intinya kita perlu melakukan keseimbangan. Di satu sisi anak membutuhkan penerimaan, dukungan dan perhatian, di sisi lain anak perlu diberikan standar pencapaian tertentu. Anak perlu mendapat pesan positif terutama di usia kanak - kanak bahwa dirinya adalah pribadi yang dicintai dan bernilai, tetapi di usia remaja perlu diseimbangkan dengan realita bahwa hidup tidak mudah, mereka tidak sepenting yang mereka pikir. Pada suatu kesempatan anak perlu diberikan otonomi untuk mengelola diri sendiri, di sisi lain mereka juga harus bertanggungjawab terhadap tindakan mereka. Beberapa contoh langkah praktis dapat diterapkan orang tua, untuk menyiapkan masa depan generasi penerus :

1. Mendorong anak untuk berbaur dengan berbagai orang dari berbagai kalangan dan usia untuk menumbuhkan empati mereka.

2. Ajarkan ketrampilan praktis seperti membuat perencanaan keuangan, perencanan perjalanan, memasak, merawat kendaraan atau mempersiapkan wawancara kerja.

3. Ajak anak untuk terlibat dalam pelayanan misi, membantu orang lain.

4. Memberikan reward sesuai dengan standar pencapaian yang telah ditentukan, dan dorong anak untuk menaikkan standar pencapaian yang baru.

5. Melatih anak untuk membuat komitmen, seperti berapa lama akan menyelesaikan kuliah dengan biaya dari orang tua.

Mari kita bersama – sama melangkah “menyelamatkan” generasi penerus untuk masa depan yang lebih baik. 

“We cannot always build the future for our youth, but we can build our youth for the future.”
Franklin D. Roosevelt

Sumber :

Elmore, Tim. 2010. Generation iY. USA : Poet Gardener Publishing

Elmore, Tim. 2012. Artificial Maturity. USA : Jossey-Bass a Wiley Imprint 

Mc Crindle, Mark. 2011. The ABC of XYZ. Australia : UNSW Press Book

Kaldik SMP

<<  May 2019  >>
 Mo  Tu  We  Th  Fr  Sa  Su 
    1  2  3  4  5
  6  7  8  9101112
131415
242526
272830  

Kaldik SMA

<<  May 2019  >>
 Mo  Tu  We  Th  Fr  Sa  Su 
    1  2  3  4  5
  6  7  8  9101112
131415
2526
282930  

Agenda Sekolah

<<  May 2019  >>
 Mo  Tu  We  Th  Fr  Sa  Su 
    1  2  3  4  5
  6  7  8  9101112
13141516171819
20212223242526
27283031  

Contact Us

Perumahan Puri Anjasmoro,
Blok FF/1, Semarang 50144
Jawa Tengah - Indonesia

  024 - 761 5988 (SMP)
  024 - 760 7097 (SMA)
  024 - 761 2375

  info@kristamitra.sch.id